Meraih Ampunan di bulan Ramadhan, Seandainya kalian tidak berbuat dosa, nescaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka. [HR. Muslim, no. 2749]
Oleh
Syaikh Sa'ad bin Sa'id al-Hajri
Di antara nama Allah Azza wa Jalla adalah al-Ghafur (Yang Maha Pengampun), dan di antara sifat-sifat-Nya adalah maghfirah (memberi ampunan). Sesungguhnya para hamba sangat memerlukan ampunan Allah Azza wa Jalla dari dosa-dosa mereka, dan mereka terdedah terjerumus dalam kubangan dosa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لو لم تذنبوا لذهب الله بكم ولجاء بقوم يذنبون فيستغفرون الله فيغفر لهم
Seandainya kalian tidak berbuat dosa, nescaya Allah akan melenyapkan kalian, dan Dia pasti akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka akan memohon ampun kepada Allah, lalu Dia akan mengampuni mereka. [HR. Muslim, no. 2749]
Dosa telah ditakdirkan pada manusia dan pasti terjadi. Allah Azza wa Jalla telah mensyariatkan faktor-faktor penyebab dosanya, agar hatinya selalu bergantung kepada Rabbnya, selalu menganggap dirinya sarat dengan kekurangan, senantiasa berintrospeksi diri, jauh dari sifat 'ujub (mengagumi diri sendiri), ghurur (terpedaya dengan amalan peribadi) dan kesombongan .
Dosa-dosa banyak diampuni di bulan Ramadhan, kerana bulan itu merupakan bulan rahmat, ampunan, pembebasan dari neraka, dan bulan untuk melakukan kebaikan. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan kesabaran yang pahalanya adalah syurga. Allah Azza wa Jalla berfirman:
إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas. [Az-Zumar/39: 10]
Puasa adalah perisai dan penghalang dari dosa dan kemaksiatan serta pelindung dari neraka. Dalam hadis sahih dijelaskan:
الصحابة: أمنت يا رسول الله قال: جاءني جبريل فقال: بعدا لمن أدرك رمضان فلم يغفرله قلت: آمين فلما رقيت الشانية قال بعدا لمن ذكرت عنده فلم يصل عليك قلت: آمين فلما رقيت الشالشة قال بعدا لمن أدرك أبواه الكبر عنده فلم يدخلاه الجنة قلت آمين
Sesungguhnya Nabi mengucapkan amin sebanyak tiga kali tatkala Jibril berdoa. Para Sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau telah mengucapkan amin ". Beliau menjawab: "Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata:" Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni ". Maka aku menjawab: "Amîn". Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: "Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan salawat kepadamu". Maka aku menjawab: "Amîn". Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: "Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu mereka tidak memasukkannya ke dalam syurga". Maka aku jawab: "Amîn". [1]
Seorang Muslim yang berusaha mendapatkan ampunan dosa, akan berbahagia dengan adanya amalan-amalan soleh agar Allah Azza wa Jalla menghapuskan dosa dan perbuatan jeleknya, karena kebaikan bisa menghapus kejelekan.
Sebab-sebab ampunan yang disyariatkan itu di antaranya:
1. TAUHID
Inilah sebab teragung. Siapa yang tidak bertauhid, maka kehilangan ampunan dan siapa yang memilikinya maka telah mempunyai sebab ampunan yang paling agung. Allah Azza wa Jalla berfirman:
إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. [An-Nisâ '/ 4:48]
Siapa saja yang membawa dosa sepenuh bumi bersama tauhid, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan ampunan sepenuh bumi kepadanya. Namun, hal ini berkaitan erat dengan kehendak Allah Azza wa Jalla. Apabila Diak berkehendak, akan mengampuni. Dan boleh saja, Dia Azza wa Jalla berkehendak untuk menyiksanya. Siapa yang merealisasikan kalimatut tauhid di hatinya, maka kalimatut tauhid tersebut akan mengusir kecintaan dan pengagungan kepada selain Allah Azza wa Jalla dari hatinya. Ketika itulah dosa dan kesalahan dihapus secara keseluruhan, walaupun sebanyak buih di lautan. 'Abdullah bin' Amr RA meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah akan menyendirikan seorang dari umatku (untuk dihadapkan) di depan semua makhluk pada hari Kiamat. Lalu Allah menghamparkan sembilan puluh sembilan lembaran (catatan amal) miliknya. Setiap lembaran seperti sejauh mata memandang. Kemudian Allah berfirman: "Apakah kamu mengingkarinya? Apakah malaikat pencatat amalan menzhalimimu ". Maka ia pun menjawab: "Tidak wahai Rabbku". Lalu Allah berfirman lagi: "Apakah kamu mempunyai udzur?" Ia menjawab: "Tidak ada wahai Rabb". Lalu Allah berfirman: "(Yang benar) ada, sesungguhnya kamu mempunyai kebaikan di sisi Kami, tidak ada kezaliman atasmu pada hari ini". Lalu dikeluarkan satu kad mengandungi syahadatain. Kemudian Allah berfirman: "Masukanlah dalam timbangan!" Ia pun berkata: "Wahai Rabbku apa gunanya kad ini berbanding lembaran-lembaran itu?" Maka Allah berfirman: "Sungguh kamu tidak akan dizalimi". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Selanjutnya lembaran-lembaran tersebut diletakkan dalam satu anak timbangan dan kad tersebut di anak timbangan yang lain. Ternyata lembaran-lembaran terangkat tinggi dan kad tersebut lebih berat. Maka tidak ada satu pun yang lebih berat dari nama Allah ". [2]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi menyatakan:
قال الله تبارك وتعالى ياابن آدم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئالأتيتك بقرابها مغفرة
Allah berfirman: Wahai anak keturunan Adam, seandainya kamu membawa dosa sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Ku (tidak berbuat syirik) tentu saja Aku akan membawakan untukmu sepenuh bumi ampunan. [HR Muslim].
Ini adalah keutamaan dan kemurahan dari Allah Azza wa Jalla dengan pengampunan seluruh dosa yang ada pada lembaran-lembaran tersebut dengan kalimat tauhid. Kerana kalimat tauhid adalah kalimat ikhlas yang menyelamatkan pemiliknya dari azab. Allah Azza wa Jalla menganugerahinya syurga dan menghapuskan dosa-dosa yang seandainya memenuhi bumi; namun hamba tersebut telah mewujudkan tauhid, maka Allah Azza wa Jalla menggantikannya dengan ampunan.
2. DOA DENGAN PENGHARAPAN
Allah Azza wa Jalla memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم
Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Kuperkenankan bagimu". [Ghâfir/40: 60]
Doa adalah ibadah. Doa akan dikabulkan apabila memenuhi kesempurnaan syarat dan bersih dari penghalang-penghalang. Kadangkala, pengabulan itu ditangguhkan, kerana sebahagian syarat tidak dipenuhi atau adanya sebahagian penghalangnya.
Di antara syarat dan adab terkabulnya doa adalah kekhusyukan hati, mengharapkan ijabah dari Allah Azza wa Jalla, sungguh-sungguh dalam meminta, tidak menyatakan insya Allah (Ya Allah Azza wa Jalla, kabulkanlah permintaanku bila Engkau menghendakinya-red), tidak tergesa-gesa mengharap pengabulan, memilih waktu-waktu dan keadaan yang mulia, mengulangulang doa tiga kali dan memulainya dengan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dan shalawat, berusaha memilih makanan dan minuman yang halal dan lain-lain.
Di antara permohonan terpenting yang dipanjatkan seorang hamba kepada Rabbnya yaitu permohonan agar dosa-dosanya diampuni atau pengaruh dari pengampunan dosa seperti diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda Kepada seseorang yang berujar: "Saya tidak mengetahui doamu dengan perlahan yang juga dilakukan Mu'âdz.
"حولها ندندن
Permohonan kami di seputar itu. [3]
Maksudnya doa kami itu berkisar pada permohonan agar dimasukkan syurga dan diselamatkan dari neraka. Abu Muslim al-Khaulani mengatakan: "Tidaklah datang kesempatan berdoa kepadaku, kecuali saya jadikan doa itu permohonan agar dilindungi dari api neraka."
3. Istighfar (memohon ampun)
Permohonan ampun ini merupakan pelindung dari adzab, penjaga dari setan, penghalang dari dari kegelisahan, kefakiran dan penderitaan, pengaman dari masa paceklik dan dosa; walaupun dosa-dosa seseorang telah menggunung sampai menyentuh langit. Dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda bahawa Allah Azza wa Jalla berfirman:
ياابن آدم إنك مادعوتني ورجوتني غفرت لك على ماكان فيك ولاأبالى ياابن آدم لؤ بلغت ذنو بك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك ولا أبالي ياابن آدم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة
"Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli; Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli; Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukanKu dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga. [HR. at-Tirmidzi]
Membaca istighfâr adalah penutup terbaik bagi pelbagai amalan, umur, serta penutup majlis.
4. BERPUASA DI SIANG HARI DAN SHALAT MALAM KARENA IMAN, mengharapkan balasan PAHALA DARI ALLAH AZZA WA JALLA, IKHLAS serta dalam rangka taat kepada Allah AZZA WA JALLA
Dia berpuasa bukan dengan niat mengikuti orang banyak, juga tidak untuk mendapatkan sanjungan orang, tidak untuk memelihara adat atau supaya sihat; juga tidak berniat pamer serta tidak untuk menjayakan urusan duaniawi. Dia juga tidak berniat untuk mendoakan keburukan yang tidak pantas buat seorang Muslim. Dia melaksanakan ibadah puasa terdorong oleh niat beriman kepada Allah Azza wa Jalla, merealisasikan ketaatan kepada-Nya dan mengharapkan pahala dari Allah Azza wa Jalla. Dalam sebuah hadis dinyatakan:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Barangsiapa yang berpuasa kerana iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat. [Al-Bukhari dan Muslim]
Alangkah luar biasanya seorang yang melaksanakan ibadah puasa lalu keluar dari ibadahnya dalam keadaan sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibundanya, yaitu tidak menanggung dosa dan berhati suci.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إن الله تبارك وتعالى فرض صيام رمضان عليكم وسننت لكم قيامه فمن صامه وقامه إيمانا واحتسابا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه
"Sesungguhnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan dan saya menyunnahkan bagi kalian shalat malamnya. Maka barangsiapa melaksanakan ibadah puasa dan solat malamnya kerana iman dan kerana ingin mendapatkan pahala, nescaya dia keluar dari dosadosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibunya. [4]
Dengan melaksanakan semua ini berarti seorang Muslim telah menjaga waktu siangnya dengan puasa, memelihara waktu malamnya dengan solat tarawih serta berusaha mendapatkan ridha Allah Azza wa Jalla
.
5. MELAKSANAKAN SHALAT MALAM PADA LAILATUL QADAR KARENA IMAN DAN INGIN MENDAPATKAN PAHALA
Lailatul Qadar adalah suatu malam yang Allah Azza wa Jalla muliakan, melebihi semua malam lainnya, suatu malam saat Allah k menurunkan kitab-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
إنا أنزلناه في ليلة القدر
Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Qur'ân) pada malam kemuliaan. [Al-Qadr/97: 1]
Allah Azza wa Jalla menjadikan Lailatul Qadar ini lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam ini para malaikat turun dan menjadikannya malam keselamatan dari segala keburukan dan dosa. Allah Azza wa Jalla mengkhususkan satu surat dalam al-Qur'ân yang membicarakan tentang malam ini. Orang yang terhalang dari berbagai kebaikan pada malam ini berarti dia terhalang dari semua kebaikan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencari Lailatul Qadar ini pada seluruh hari pada bulan Ramadhan, karena beliau Shallallahu' alaihi wa sallam pernah beri'tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kemudian sepuluh hari kedua dan sepuluh hari terakhir. Orang yang ingin mendapatkan keberuntungan, maka dia akan bersemangat untuk melaksanakan solat malam pada malam yang lebih baik dari delapan puluh tiga tahun dan empat bulan.
Dalam hadis, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم
Barangsiapa melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka dia diampuni semua dosanya yang telah lewat. [5]
Untuk mendapatkan ampunan di malam itu, tidak disyaratkan untuk menyaksikannya secara langsung. Namun syaratnya adalah orang melakukan qiamullail sebagaimana tertuang dalam hadis tersebut.
6. BERSEDEKAH
Bersedekah termasuk salah satu qurbah (ibadah yang mendekatkan diri) yang agung di hadapan Allah Azza wa Jalla. Dengannya, seorang hamba memperoleh kebaikan, sesuai dengan firman Allah Azza wa Jalla:
تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون وما تنفقوا من شيء فإن الله به عليم
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan. sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali Imran / 3:92].
Dalam hadis Mu'âdz, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ألا أدلك على أبوب الخير الصوم جنه والصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وصلاة الرجل من جوف الليل
"Mahukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai. Bersedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Dan solat seseorang di kegelapan malam ... "[at-Tirmidzi no: 2541]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam orang yang sangat dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau berjumpa dengan malaikat Jibril. Saat itu beliau lebih berbaik hati daripada angin yang bertiup sepoi-sepoi. Di antara bentuk sedekah terbaik adalah memberi makan orang yang puasa (ifthârus shaim). Disebutkan dalam hadis:
من فطر صائما كان له مشل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصا ئم شيئا
"Barang siapa memberi buka puasa bagi orang yang puasa maka ia mendapat pahala sepertinya, tanpa mengurangkan pahala orang itu sedikit pun." [HR. at-Tirmidzi dan dishahîhkan oleh al-Albani]
Pahala orang yang bersedekah dilipatgandakan sampai tujuh ratus lipat dan kelipatan yang lebih banyak lagi. Di bulan Ramadhan, penggandaan pahala itu semakin besar. Di antara pemandangan yang sangat menarik, antusiasme orang di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan masjid-masjid lainnya untuk memberi buka puasa bagi kaum Muslimin di bulan Ramadhan.
7. MELAKUKAN UMRAH
Ibadah umrah termasuk faktor yang menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah bersabda:
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة
"Ibadah umrah ke ibadah umrah (berikutnya) adalah penggugur dosa antara keduanya. Dan pahala haji mabrur tiada lain adalah Syurga "[al-Bukhari no: 1650]
Umrah di bulan Ramadhan pahalanya lebih besar daripada di bulanbulan lain. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu' alaihi wa sallam sehabis pulang dari haji Wada 'berkata kepada seorang wanita dari Anshar bernama Ummu Sinan: "Apa yang menghalangimu untuk berhaji (denganku)." Ia menjawab: "Abu Fulan (suaminya) mempunyai dua unta. Salah satu dipakainya untuk berhaji dan yang lain untuk mengairi persawahan. "
Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
فإن عمرة في رمضان تقضي حجة أو حجة معي
"Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan dapat mengganti haji bersamaku." [HR Bukhari no 1863; Muslim no 3028]
Betapa besar keberuntungan orang yang umrah di bulan Ramadhan. Ia bagaikan berhaji bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti orang yang menyertai beliau dalam ihram, sai dan thawaf dan seluruh manasik haji beliau.
8. Menyempurnakan puasa sebulan penuh
Ada sekian banyak orang yang akan bebas dari api neraka di bulan Ramadhan, dan itu terjadi di setiap malam. Allah Azza wa Jalla menyempurnakan pahala orang-orang yang sabar tanpa perhitungan khusus. Ada Ulama yang mengatakan:
من صام الشهر واستكمل الأجر وأدرك ليلة القدر فقد فاز بجائزة الرب
Barang siapa berpuasa sebulan penuh dan meraih pahala sempurna, dan berjumpa dengan malam Lailatul Qadar, sungguh ia telah menggapai hadiah dari Allah.
Semoga Allah Azza wa Jalla memaafkan dosa-dosa kita sekalian dan menutupi kekurangan-kekurangan kita dan memudahkan segala urusan kita.
Diambil dari kitab Tadzkîrul Anam Bidurûs ash-Shiyâm, karya Syaikh Sa'ad bin Sa'id al-Hajri, Dâr Ibnul Jauzi hlm 265-27
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 06-07/Tahun XIII/1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Penulis kitab Nadhratun Na'im (10/5014) berkata: Hadits ini dikeluarkan al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/154) dan berkata: hadis ini sahih sanadnya, namun imam al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. Imam adz-Dzahabi menyetujui hal ini. (Dishahihkan al-Albani dalam Shahîh at-Targhib wat-Tarhib).
[2]. HR at-Tirmidzi kitab Iman bâb Mâ ja'a fiman yamutu Wahuwa Yasyhadu An La Ilaha Illallah dan dishahîhkan al-Albani dengan no. 2639
[3]. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami 'no. 3163
[4]. Penyusun kitab Nadhratun Na'im berkata: Diriwayatkan oleh Imam an-Nasî'i 4/158 dan lafazh ini adalah lafazh imam an-Nasâ'i; diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad 1/191. Syaikh Ahmad Syakir berkata: "Sanad hadits ini shahîh."
[5]. HR Imam Muslim, Kitâb shalatil Musafirin, bab At-Targhîb Fî qiyâmi Ramadhân Wa Huwa Shalatut Tarawih, no. 1778
Muhammad Jusuf Villa Periwi Blok 01 No17 Depok, Jawa Barat Indonesia menjual tiket penerbangan, Kereta api (Indonesia), konsert (show) dan booking bilik hotel di seluruh dunia, pengesahan pembelian tiket melalui email di Hand Phone anda, cukup memperlihatkan telefon di lapangan terbang (jualan tiket secara online di blogs ini) Phone/Tlp: 62 2129633600
Thursday, July 3, 2014
Wednesday, July 2, 2014
Ramadhan Bulan Berdoa. Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang yang berpuasa sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil, seorang yang dizalimi. [32]
Ramadhan Bulan Berdoa. Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang yang berpuasa sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil, seorang yang dizalimi. [32]
Oleh
Ustaz Rijal Yuliar Lc
Allah Subhanahu wa Ta'ala befirman:
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون
Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada-Mu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapat petunjuk "[al-Baqarah / 2:186]
SEBAB TURUNNYA AYAT
Para Ulama berbeza pendapat tentang kronologi sebab diturunkannya ayat ini.
1. Sebahagian menyatakan bahawa ayat ini turun tatkala Sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam, apakah Rabb kita dekat, sehingga kita melirihkan suara saat berdoa, ataukah Dia Subhanahu wa Ta'ala jauh sehingga kita mengangkat suara dalam berdoa? ", maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat ini. [1]
2. Adapun sebahagian lain seperti 'Atha' bin Abi Rabah menyatakan bahawa ayat ini diturunkan sebagai jawapan bagi suatu kaum yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang waktu-waktu dianjurkannya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yakni ketika turun ayat (Ghâfir/40: 60) "Dan Rabb kalian berfirman" Berdoalah kalian kepada-Ku nescaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian ". Mereka bertanya: "Masa apa (kami melakukannya)? [2] maka kemudian turunlah ayat di atas. [3]
PENJELASAN AYAT
1. Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Dekat Dengan Para Hamba-Nya.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada seluruh umatnya bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha dekat. Kedekatan yang sesuai kemuliaan dan keperkasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan Dzat-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لاتدعون أصم ولا غائبا إنه معكم إنه سميع قريب
Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli atau tidak ada, sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha mendengar, lagi Maha dekat ". [4]
Wajib atas setiap Muslim untuk beriman bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha dekat lagi Maha mengabulkan doa. Allah Subhanahu wa Ta'ala dekat kepada hamba yang berdoa, mendengarnya dan mengabulkannya kapanpun Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki. Kedekatan itu adalah kedekatan ilmu dan pengawasan-Nya, sesuai dengan kesempurnaan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. [5]
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah berkata "Sifat" kedekatan "Allah Subhanahu wa Ta'ala ada dua macam; kedekatan dengan ilmu-Nya (mengetahui) seluruh makhluk-Nya, dan kedekatan kepada hamba yang beribadah serta berdoa sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa dan memberikan pertolongan maupun taufik-Nya. Barangsiapa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hati yang kepekatan dan doa yang disyariatkan, serta tidak terhalang dengan penghalang apapun bagi terkabulnya doa tersebut; seperti memakan yang haram atau selainnya, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji untuk mengabulkannya. Terlebih jika ia mengupayakan segala sebab dikabulkannya doa (tersebut) yaitu dengan menjawab panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ketaatan terhadap segala perintah-Nya dan patuh menjauhi segala larangan-Nya baik dalam perkataan maupun perbuatan disertai keimanan (tentunya) akan menyebabkan terkabulnya doa " . [6]
2. Allah Subhanahu Wa Ta'ala Mengabulkan Doa Hamba-Nya.
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai keagungan, kemurahan dan kedekatan-Nya kepada para hamba-Nya. Sebagaimana juga dalam ayat lain "dan Rabb kalian berkata:" Berdoalah kepada-Ku nescaya Aku mengabulkannya untuk kalian ... ". [7] Mujahid dan Ibnul Mubarak menjelaskan [8] makna" فليستجيبوا لي "yakni" hendaklah mereka melaksanakan ketaatan kepada-Ku ( Allah Subhanahu wa Ta'ala) ". Adapun "وليؤمنوا بي" maknanya "dan (hendaklah) mereka beriman kepada-Ku" yakni hendaknya mereka beriman jika mereka menaati Allah Subhanahu wa Ta'ala, sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala akan melimpahkan pahala dan kemuliaan kepada mereka disebabkan ketaatan itu. Sebahagian lain mengatakan:
"فليستجيبوا لي" maknanya adalah "berdoalah kepada-Ku"
"وليؤمنوا بي" maknanya "dan hendaknya mereka percaya bahawa Aku mengabulkan doa mereka". [9]
Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan "Dengan kedua sebab ini, doa akan dikabulkan, yakni dengan kesempurnaan nilai ketaatan terhadap uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dengan kekuatan iman terhadap rububiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa mentaati Allah Subhanahahu wa ta'ala dalam semua perintah dan larangan-Nya, maka tercapailah maksudnya dalam berdoa dan dikabulkan doanya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman [10] "Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh serta menambah bagi mereka dari karunia-Nya ". [11]
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengakhiri ayat ini dengan firman-Nya: "لعلهم يرشدون" yakni "Semoga mereka mendapat petunjuk yang lurus". Jika mereka mentaatiku dan beriman kepada-Ku mereka akan mendapatkan kebaikan di kehidupan dunia dan akhirat mereka ". [12] serta penggunaan untuk senantiasa beriman dan beramal soleh sehingga keburukan akan lenyap dari mereka." [13]
3. Mengapa Doa Tidak Dikabulkan?
Jika seseorang berkata: "Tidak jarang kita mendapatkan seseorang yang berdoa namun tidak dikabulkan. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan dalam firman-Nya "Aku akan mengabulkan seseorang yang" menyeru "(berdoa) kepada-Ku." "Sesungguhnya ungkapan tersebut boleh diarahkan dengan dua penjelasan; yang pertama: "menyeru" di sini bererti mengamalkan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan anjurananjuran-Nya Subhanahu wa Ta'ala, sehingga maknanya adalah "Sesungguhnya Aku dekat dengan hamba yang senantiasa menjalankan perintah dan anjuran-Ku, Aku akan membalasnya dengan pahala ". Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "sesungguhnya doa adalah ibadah." Kemudian beliau Shallallahu' alaihi wa sallam membaca:
وقال ربكم اذعوبي أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Sesungguhnya Rabb kalian memerintahkan: "Berdoalah kepada-Ku nescaya akan Aku kabulkan doamu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina." [14]
Dan yang kedua: maknanya adalah "Aku mengabulkan seseorang yang berdoa kepada-Ku jika Aku menghendaki". [15]
Syaikh 'Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah berkata "menyeru (berdoa) terbagi menjadi dua macam; doa ibadah dan doa permohonan ". [16] Para Ulama menjelaskan bahawa doa permohonan merangkumi makna doa ibadah, dan doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan. Yakni barangsiapa memohon sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maka dia sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun maksud doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan, misalnya barangsiapa shalat, maka itu mengandung permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar shalatnya diterima dan diberikan pahala. Sehingga dengan demikian doa permohonan termasuk (makna) doa ibadah dan doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan. [17]
4. Beberapa Etika Dalam Berdoa.
Mengingat pentingnya hal ini, para Ulama menjelaskan tentang syarat serta etika dalam berdoa agar dikabulkan, sebagaimana tuntunan dalam al-Qur'ân dan Hadith.
Al-Baghawi rahimahullah berkata: "Ada etika dan syaratsyarat dalam berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa memuaskan, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan barangsiapa melalaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan ". [18] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata" Kedua ayat berikut termasuk adab-adab berdoa dengan kedua jenisnya (doa ibadah dan doa permohonan); yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها وادعوه خوفا وطمعا إن رحمت الله قريب من المحسنين
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A'raf / 7:55-56] [19]
Dan Ibnu Katsir rahimahullah membawakan sejumlah hadis-hadis yang berkaitan dengan adab-adab tersebut dalam menafsirkan ayat di awal pembahasan ini. Di antara yang beliau isyaratkan yaitu: [20]
• Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:
قال إن الله حيي كريم يستحيي إذا رفع الرجل إليه يديه أن يردهما صفرا خائبتين
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha pemalu lagi Maha pemurah terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa), kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak dikabulkan). [21]
• Mengawali doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemudian Salawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan asma dan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan amal shalih dan selainnya. [22] Semua itu hendaknya dilakukan dengan suara lirih dan tidak berlebihan sebagaimana hadis Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu di muka.
• Berprasangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi dari Anas Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:
يقول الله عزوجل: يقول أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا دعاني
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku" [23]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Yakni Aku (Allah Subhanahu wa Ta'ala) Maha mampu melakukan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku bahawa Aku mampu melakukannya." Beliau juga membawakan perkataan al-Qurthubi rahimahullah bahwa maknanya adalah "Menyangka dikabulkannya doa, diterimanya taubat , diberikan ampun melalui istighfâr, serta menyangka dibalas dengan pahala atas ibadah yang dilakukan sesuai syarat-syaratnya sebagai keyakinan akan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta'ala .24
• Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; kerana ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia tidak lagi berdoa. Na'udzubillah.
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يستجاب لأحدكم مالم يعجل يقول دعوت فلم يتجب لي
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah bersabda "Akan dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa, yakni ia berkata' aku telah berdoa namun belum dikabulkan bagiku '". [25]
Dalam lafaz lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال لايزال يستجاب للعبد مالميدع بإثم أو قطيعة رحم مالم يستعجل قيل يا رسول الله ما الاستعجال قال يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء
Senantiasa akan dikabulkan (doa) seorang hamba selama tidak meminta dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, selama ia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud tergesa-gesa?" Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam menjawab: "Dia berkata 'aku telah berdoa, aku telah berdoa tetapi aku tidak pernah mendapatkan doaku dikabulkan', kemudian ia berputus asa dan meninggalkan berdoa. [26]
• Membersihkan jiwa raga dari berbagai kehinaan dan dosa merupakan satu hal yang mungkin terlalaikan. Hati yang kotor dengan pelbagai maksiat atau raga yang tidak bersih dari keharaman akan menghalang terkabulnya doa
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أيهاالناس إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال يا أيها الريسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا إني بما تعملون عليم وقال ياأيهاالذنين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقنا كم ثم دكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يارب يارب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب لذلك
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata: "Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:" Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan." Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman makanlah rezeki yang baik dari apa yang diberikan kepada kalian ... ", kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan seorang musafir yang berjalan jauh sehingga kumal rambutnya, lusuh dan berdebu, dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit seraya berdoa menyeru:" Wahai Rabbku, wahai Rabbku ... " , namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi dari yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya? ". [27]
• Yakin bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha mengabulkan doa selama tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya. Dari 'Abdullah bin' Amr RA bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ادعوا الله وانتم موقنون باللإجابة واعلمواأن الله لايستجيب دعاء من قلب غافل لاه
Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kalian yakin (akan) dikabulkan, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa (seorang hamba) yang hatinya alpa serta lalai ". [28]
Dalam hadis lain dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: [29]
ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولاقطيعة رحم إلاأعطاهالله بهاإحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يد خرها له في الآخرة وإما ان يصرف عنه من السوء مثلها قالوا إذا نكثر قال الله أكثر
Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebuah doa yang tidak ada dosa atau pemutusan ikatan kekeluargaan di dalamnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberinya satu di antara tiga perkara; 1) boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengabulkan doa tersebut, 2) atau menyimpan sebagai tabungan baginya di akhirat, 3) atau menyelamatkannya dari kejelekan yang setara dengan doa yang dipanjatkannya. "Para sahabat berkata:" Jika demikian, kami akan memperbanyak (doa). "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:" Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih banyak. [30] "
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Yang dimaksud adalah bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan mensia-siakan doa seseorang, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak disibukkan dengan sesuatu apapun. Dia Subhanahu wa Ta'ala Maha mendengar doa. Dalam hal ini terdapat anjuran (memperbanyak) berdoa kerana tidak satu pun yang luput dari-Nya Subhanahu wa Ta'ala. "[31] Lebih-lebih lagi pada saat kita tengah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hendaknya kita mengambil kesempatan yang istimewa ini dengan memperbanyak doa bagi kebaikan kita di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثلا ث لا ترد دعو تهم: الصائم حتى يفطر, والإمام العادل, ودعوة المظلوم
Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang yang berpuasa sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil, seorang yang dizalimi. [32]
Sehingga selepas ayat-ayat tentang shiyâm (berpuasa) dan kemuliaan bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan ayat utama pembahasan ini (al-Baqarah / 2:186) sebagai petunjuk bahawa seorang Mukmin hendaknya selalu mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla dengan segala bentuk ibadah termasuk dengan berdoa. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "disisipkannya ayat ini di tengah-tengah penjelasan hukum-hukum shiyâm merupakan penggunaan sekaligus motivator untuk (banyak) berdoa pada saat menyelesaikan bilangan puasa, bahkan pada setiap moment berbuka puasa sebagaimana hadits di atas. Marilah kita semua memperbanyak doa; sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala murka terhadap yang orang yang tidak berdoa kepada-Nya sebagaimana firman-Nya:
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
dan Rabmu berkata: "Berdoalah kepada-Ku, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." [33]
Demikian pula dijelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: "من لم يدع الله يغضب عليه" yang artinya: "Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maka Allah Subhanahu wa Ta ' ala marah terhadapnya ". [34] Ibnul Mubarak RA berkata:
الرحمن إذا سئل أعطى, والرحيمإذا لم يسأل يغضب
Ar-Rahmân (Allah Subhanahu wa Ta'ala) jika Dia diminta akan memberi, dan Ar-Rahîm (Allah Subhanahu wa Ta'ala) jika Dia tidak diminta akan marah. [35]
Ya Allah Subhanahu wa Ta'ala, aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu ', dari jiwa yan tidak puas, serta dari doa yang tidak dikabulkan ". [36]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
Oleh
Ustaz Rijal Yuliar Lc
Allah Subhanahu wa Ta'ala befirman:
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون
Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada-Mu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapat petunjuk "[al-Baqarah / 2:186]
SEBAB TURUNNYA AYAT
Para Ulama berbeza pendapat tentang kronologi sebab diturunkannya ayat ini.
1. Sebahagian menyatakan bahawa ayat ini turun tatkala Sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam, apakah Rabb kita dekat, sehingga kita melirihkan suara saat berdoa, ataukah Dia Subhanahu wa Ta'ala jauh sehingga kita mengangkat suara dalam berdoa? ", maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat ini. [1]
2. Adapun sebahagian lain seperti 'Atha' bin Abi Rabah menyatakan bahawa ayat ini diturunkan sebagai jawapan bagi suatu kaum yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang waktu-waktu dianjurkannya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yakni ketika turun ayat (Ghâfir/40: 60) "Dan Rabb kalian berfirman" Berdoalah kalian kepada-Ku nescaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian ". Mereka bertanya: "Masa apa (kami melakukannya)? [2] maka kemudian turunlah ayat di atas. [3]
PENJELASAN AYAT
1. Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Dekat Dengan Para Hamba-Nya.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada seluruh umatnya bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha dekat. Kedekatan yang sesuai kemuliaan dan keperkasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan Dzat-Nya Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لاتدعون أصم ولا غائبا إنه معكم إنه سميع قريب
Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli atau tidak ada, sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha mendengar, lagi Maha dekat ". [4]
Wajib atas setiap Muslim untuk beriman bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha dekat lagi Maha mengabulkan doa. Allah Subhanahu wa Ta'ala dekat kepada hamba yang berdoa, mendengarnya dan mengabulkannya kapanpun Allah Subhanahu wa Ta'ala kehendaki. Kedekatan itu adalah kedekatan ilmu dan pengawasan-Nya, sesuai dengan kesempurnaan sifat bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. [5]
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah berkata "Sifat" kedekatan "Allah Subhanahu wa Ta'ala ada dua macam; kedekatan dengan ilmu-Nya (mengetahui) seluruh makhluk-Nya, dan kedekatan kepada hamba yang beribadah serta berdoa sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doa dan memberikan pertolongan maupun taufik-Nya. Barangsiapa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hati yang kepekatan dan doa yang disyariatkan, serta tidak terhalang dengan penghalang apapun bagi terkabulnya doa tersebut; seperti memakan yang haram atau selainnya, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji untuk mengabulkannya. Terlebih jika ia mengupayakan segala sebab dikabulkannya doa (tersebut) yaitu dengan menjawab panggilan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ketaatan terhadap segala perintah-Nya dan patuh menjauhi segala larangan-Nya baik dalam perkataan maupun perbuatan disertai keimanan (tentunya) akan menyebabkan terkabulnya doa " . [6]
2. Allah Subhanahu Wa Ta'ala Mengabulkan Doa Hamba-Nya.
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai keagungan, kemurahan dan kedekatan-Nya kepada para hamba-Nya. Sebagaimana juga dalam ayat lain "dan Rabb kalian berkata:" Berdoalah kepada-Ku nescaya Aku mengabulkannya untuk kalian ... ". [7] Mujahid dan Ibnul Mubarak menjelaskan [8] makna" فليستجيبوا لي "yakni" hendaklah mereka melaksanakan ketaatan kepada-Ku ( Allah Subhanahu wa Ta'ala) ". Adapun "وليؤمنوا بي" maknanya "dan (hendaklah) mereka beriman kepada-Ku" yakni hendaknya mereka beriman jika mereka menaati Allah Subhanahu wa Ta'ala, sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala akan melimpahkan pahala dan kemuliaan kepada mereka disebabkan ketaatan itu. Sebahagian lain mengatakan:
"فليستجيبوا لي" maknanya adalah "berdoalah kepada-Ku"
"وليؤمنوا بي" maknanya "dan hendaknya mereka percaya bahawa Aku mengabulkan doa mereka". [9]
Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan "Dengan kedua sebab ini, doa akan dikabulkan, yakni dengan kesempurnaan nilai ketaatan terhadap uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dengan kekuatan iman terhadap rububiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa mentaati Allah Subhanahahu wa ta'ala dalam semua perintah dan larangan-Nya, maka tercapailah maksudnya dalam berdoa dan dikabulkan doanya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman [10] "Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh serta menambah bagi mereka dari karunia-Nya ". [11]
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala mengakhiri ayat ini dengan firman-Nya: "لعلهم يرشدون" yakni "Semoga mereka mendapat petunjuk yang lurus". Jika mereka mentaatiku dan beriman kepada-Ku mereka akan mendapatkan kebaikan di kehidupan dunia dan akhirat mereka ". [12] serta penggunaan untuk senantiasa beriman dan beramal soleh sehingga keburukan akan lenyap dari mereka." [13]
3. Mengapa Doa Tidak Dikabulkan?
Jika seseorang berkata: "Tidak jarang kita mendapatkan seseorang yang berdoa namun tidak dikabulkan. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan dalam firman-Nya "Aku akan mengabulkan seseorang yang" menyeru "(berdoa) kepada-Ku." "Sesungguhnya ungkapan tersebut boleh diarahkan dengan dua penjelasan; yang pertama: "menyeru" di sini bererti mengamalkan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan anjurananjuran-Nya Subhanahu wa Ta'ala, sehingga maknanya adalah "Sesungguhnya Aku dekat dengan hamba yang senantiasa menjalankan perintah dan anjuran-Ku, Aku akan membalasnya dengan pahala ". Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "sesungguhnya doa adalah ibadah." Kemudian beliau Shallallahu' alaihi wa sallam membaca:
وقال ربكم اذعوبي أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
Sesungguhnya Rabb kalian memerintahkan: "Berdoalah kepada-Ku nescaya akan Aku kabulkan doamu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri untuk beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina." [14]
Dan yang kedua: maknanya adalah "Aku mengabulkan seseorang yang berdoa kepada-Ku jika Aku menghendaki". [15]
Syaikh 'Abdurrahman as-Sa'di rahimahullah berkata "menyeru (berdoa) terbagi menjadi dua macam; doa ibadah dan doa permohonan ". [16] Para Ulama menjelaskan bahawa doa permohonan merangkumi makna doa ibadah, dan doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan. Yakni barangsiapa memohon sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maka dia sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun maksud doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan, misalnya barangsiapa shalat, maka itu mengandung permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar shalatnya diterima dan diberikan pahala. Sehingga dengan demikian doa permohonan termasuk (makna) doa ibadah dan doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan. [17]
4. Beberapa Etika Dalam Berdoa.
Mengingat pentingnya hal ini, para Ulama menjelaskan tentang syarat serta etika dalam berdoa agar dikabulkan, sebagaimana tuntunan dalam al-Qur'ân dan Hadith.
Al-Baghawi rahimahullah berkata: "Ada etika dan syaratsyarat dalam berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa memuaskan, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan barangsiapa melalaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan ". [18] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata" Kedua ayat berikut termasuk adab-adab berdoa dengan kedua jenisnya (doa ibadah dan doa permohonan); yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ادعوا ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها وادعوه خوفا وطمعا إن رحمت الله قريب من المحسنين
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A'raf / 7:55-56] [19]
Dan Ibnu Katsir rahimahullah membawakan sejumlah hadis-hadis yang berkaitan dengan adab-adab tersebut dalam menafsirkan ayat di awal pembahasan ini. Di antara yang beliau isyaratkan yaitu: [20]
• Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:
قال إن الله حيي كريم يستحيي إذا رفع الرجل إليه يديه أن يردهما صفرا خائبتين
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha pemalu lagi Maha pemurah terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa), kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak dikabulkan). [21]
• Mengawali doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, kemudian Salawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan asma dan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan amal shalih dan selainnya. [22] Semua itu hendaknya dilakukan dengan suara lirih dan tidak berlebihan sebagaimana hadis Abu Musa al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu di muka.
• Berprasangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi dari Anas Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:
يقول الله عزوجل: يقول أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا دعاني
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku" [23]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Yakni Aku (Allah Subhanahu wa Ta'ala) Maha mampu melakukan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku bahawa Aku mampu melakukannya." Beliau juga membawakan perkataan al-Qurthubi rahimahullah bahwa maknanya adalah "Menyangka dikabulkannya doa, diterimanya taubat , diberikan ampun melalui istighfâr, serta menyangka dibalas dengan pahala atas ibadah yang dilakukan sesuai syarat-syaratnya sebagai keyakinan akan kebenaran janji Allah Subhanahu wa Ta'ala .24
• Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; kerana ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia tidak lagi berdoa. Na'udzubillah.
عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يستجاب لأحدكم مالم يعجل يقول دعوت فلم يتجب لي
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah bersabda "Akan dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa, yakni ia berkata' aku telah berdoa namun belum dikabulkan bagiku '". [25]
Dalam lafaz lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال لايزال يستجاب للعبد مالميدع بإثم أو قطيعة رحم مالم يستعجل قيل يا رسول الله ما الاستعجال قال يقول قد دعوت وقد دعوت فلم أر يستجيب لي فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء
Senantiasa akan dikabulkan (doa) seorang hamba selama tidak meminta dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, selama ia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud tergesa-gesa?" Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam menjawab: "Dia berkata 'aku telah berdoa, aku telah berdoa tetapi aku tidak pernah mendapatkan doaku dikabulkan', kemudian ia berputus asa dan meninggalkan berdoa. [26]
• Membersihkan jiwa raga dari berbagai kehinaan dan dosa merupakan satu hal yang mungkin terlalaikan. Hati yang kotor dengan pelbagai maksiat atau raga yang tidak bersih dari keharaman akan menghalang terkabulnya doa
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أيهاالناس إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال يا أيها الريسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا إني بما تعملون عليم وقال ياأيهاالذنين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقنا كم ثم دكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يارب يارب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب لذلك
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata: "Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda:" Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan." Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman makanlah rezeki yang baik dari apa yang diberikan kepada kalian ... ", kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan seorang musafir yang berjalan jauh sehingga kumal rambutnya, lusuh dan berdebu, dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit seraya berdoa menyeru:" Wahai Rabbku, wahai Rabbku ... " , namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi dari yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya? ". [27]
• Yakin bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha mengabulkan doa selama tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya. Dari 'Abdullah bin' Amr RA bahawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ادعوا الله وانتم موقنون باللإجابة واعلمواأن الله لايستجيب دعاء من قلب غافل لاه
Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kalian yakin (akan) dikabulkan, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa (seorang hamba) yang hatinya alpa serta lalai ". [28]
Dalam hadis lain dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: [29]
ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولاقطيعة رحم إلاأعطاهالله بهاإحدى ثلاث إما أن تعجل له دعوته وإما أن يد خرها له في الآخرة وإما ان يصرف عنه من السوء مثلها قالوا إذا نكثر قال الله أكثر
Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebuah doa yang tidak ada dosa atau pemutusan ikatan kekeluargaan di dalamnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberinya satu di antara tiga perkara; 1) boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengabulkan doa tersebut, 2) atau menyimpan sebagai tabungan baginya di akhirat, 3) atau menyelamatkannya dari kejelekan yang setara dengan doa yang dipanjatkannya. "Para sahabat berkata:" Jika demikian, kami akan memperbanyak (doa). "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:" Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih banyak. [30] "
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Yang dimaksud adalah bahawa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan mensia-siakan doa seseorang, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak disibukkan dengan sesuatu apapun. Dia Subhanahu wa Ta'ala Maha mendengar doa. Dalam hal ini terdapat anjuran (memperbanyak) berdoa kerana tidak satu pun yang luput dari-Nya Subhanahu wa Ta'ala. "[31] Lebih-lebih lagi pada saat kita tengah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hendaknya kita mengambil kesempatan yang istimewa ini dengan memperbanyak doa bagi kebaikan kita di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثلا ث لا ترد دعو تهم: الصائم حتى يفطر, والإمام العادل, ودعوة المظلوم
Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang yang berpuasa sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil, seorang yang dizalimi. [32]
Sehingga selepas ayat-ayat tentang shiyâm (berpuasa) dan kemuliaan bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan ayat utama pembahasan ini (al-Baqarah / 2:186) sebagai petunjuk bahawa seorang Mukmin hendaknya selalu mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla dengan segala bentuk ibadah termasuk dengan berdoa. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "disisipkannya ayat ini di tengah-tengah penjelasan hukum-hukum shiyâm merupakan penggunaan sekaligus motivator untuk (banyak) berdoa pada saat menyelesaikan bilangan puasa, bahkan pada setiap moment berbuka puasa sebagaimana hadits di atas. Marilah kita semua memperbanyak doa; sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala murka terhadap yang orang yang tidak berdoa kepada-Nya sebagaimana firman-Nya:
وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين
dan Rabmu berkata: "Berdoalah kepada-Ku, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." [33]
Demikian pula dijelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahawa Rasulullah Shallallahu' alaihi wa sallam bersabda: "من لم يدع الله يغضب عليه" yang artinya: "Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala maka Allah Subhanahu wa Ta ' ala marah terhadapnya ". [34] Ibnul Mubarak RA berkata:
الرحمن إذا سئل أعطى, والرحيمإذا لم يسأل يغضب
Ar-Rahmân (Allah Subhanahu wa Ta'ala) jika Dia diminta akan memberi, dan Ar-Rahîm (Allah Subhanahu wa Ta'ala) jika Dia tidak diminta akan marah. [35]
Ya Allah Subhanahu wa Ta'ala, aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu ', dari jiwa yan tidak puas, serta dari doa yang tidak dikabulkan ". [36]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
Subscribe to:
Posts (Atom)

